Peternakan Babi di Sragen Tutup Usai Adanya SSPG Dibangun. Peternakan babi milik Angga Wiyana Mahardika di Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, menjadi viral karena diminta tutup setelah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis dibangun tepat di sampingnya. Usaha turun-temurun yang sudah berdiri sekitar 50 tahun ini terancam berhenti operasi karena lokasi SPPG yang berdampingan langsung, melanggar pedoman Badan Gizi Nasional bahwa dapur MBG harus jauh dari peternakan hewan. Polemik ini ramai di media sosial sejak awal Januari 2026, memicu debat antara program nasional dan usaha lokal. REVIEW WISATA
Sejarah Peternakan dan Pembangunan SPPG: Peternakan Babi di Sragen Tutup Usai Adanya SSPG Dibangun
Peternakan babi ini warisan keluarga Angga, sudah ada sebelum ia lahir dan dilanjutkan sejak 2000-an. Selama puluhan tahun, tidak ada keluhan signifikan dari warga sekitar, bahkan Angga punya surat dukungan tertulis dari sebagian tetangga. Kandang berisi kurang dari 100 ekor itu terjaga kebersihannya dan jadi sumber penghidupan keluarga.
SPPG dibangun di lahan bekas rumah warisan kakak Angga yang dijual tahun 2025. Pengelola SPPG mengaku sudah minta izin dan sowan dua kali sebelum pembangunan. Namun, Angga kaget saat tahu lahan itu jadi dapur MBG dan dirinya diminta pindah melalui pihak RT. Pedoman resmi menyatakan dapur harus jauh dari peternakan, jadi keberadaan kandang babi jadi masalah utama.
Klaim dan Bantahan Kedua Pihak: Peternakan Babi di Sragen Tutup Usai Adanya SSPG Dibangun
Angga merasa seperti “diusir” oleh pendatang baru, meski usahanya lebih dulu ada. Ia minta kompensasi relokasi hingga Rp1 miliar, turun dari angka awal Rp2 miliar. Pengelola SPPG, Aan Yuliatmoko, bantah pernah minta kandang ditutup dan tekankan sudah permisi sebelum bangun.
Wakil Bupati Sragen Suroto dukung peternak lokal jika izin lengkap dan tidak ada gejolak masyarakat. Ia bilang jangan sampai program pusat matikan usaha warga Sragen, tapi risiko penolakan dari penerima manfaat jadi tanggung jawab Badan Gizi Nasional.
Dampak Polemik dan Respons Pemerintah
Kasus ini jadi sorotan Muspika Sambungmacan yang cek langsung lokasi dan minta masalah selesai sebelum SPPG operasional. Pemkab Sragen posisi dilema karena SPPG ranah pusat, tapi lindungi ekonomi lokal. Mediasi terus dilakukan, tapi belum ada titik temu.
Warga mayoritas tidak keberatan dengan kandang selama bersih, tapi khawatir program MBG terganggu. Polemik ini tunjukkan tantangan implementasi program nasional di lapangan, terutama soal pemilihan lokasi.
Kesimpulan
Peternakan babi di Sragen terancam tutup karena pembangunan SPPG di sampingnya, picu polemik antara usaha turun-temurun dan program Makan Bergizi Gratis. Klaim kompensasi dari pemilik kandang dan bantahan pengelola SPPG belum selesai, sementara Pemkab coba mediasi lindungi kedua pihak. Kasus ini jadi contoh kompleksnya kebijakan pusat saat bertemu realita lokal. Harapannya, solusi musyawarah bisa temukan jalan tengah agar program jalan tanpa korbankan mata pencaharian warga. Polemik ini terus pantau hingga ada keputusan final.