PBB Nyatakan Gaza Resmi Alami Bencana Kelaparan. Pada 22 Agustus 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi menyatakan bahwa Gaza, khususnya Gaza City dan sekitarnya, mengalami bencana kelaparan berdasarkan laporan Integrated Food Security Phase Classification (IPC). Lebih dari setengah juta warga Gaza menghadapi kelaparan ekstrem, yang diklasifikasikan sebagai fase 5 IPC, tingkat paling parah. Pengumuman ini memperkuat peringatan sebelumnya tentang krisis kemanusiaan di wilayah tersebut, yang diperburuk oleh konflik berkepanjangan dan pembatasan akses bantuan. Artikel ini akan mengulas apa itu PBB, alasan keterlambatan pengesahan kelaparan, dan respons masyarakat terhadap krisis ini. BERITA LAINNYA
Apa Itu PBB
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah organisasi internasional yang didirikan pada 1945 untuk mempromosikan perdamaian, keamanan, dan kerja sama global. Beranggotakan 193 negara, PBB memiliki badan-badan seperti Dewan Keamanan, UNICEF, dan Program Pangan Dunia (WFP) yang fokus pada isu kemanusiaan, termasuk pangan dan kesehatan. Di Gaza, PBB melalui badan seperti UNRWA (Badan Bantuan dan Pekerjaan untuk Pengungsi Palestina) berperan menyediakan bantuan makanan, pendidikan, dan layanan kesehatan bagi penduduk Palestina. PBB juga bekerja sama dengan IPC, sebuah kelompok ahli independen, untuk memantau dan mengklasifikasikan krisis kelaparan berdasarkan data seperti kekurangan gizi, ketersediaan pangan, dan tingkat kematian. Pengumuman kelaparan di Gaza merupakan langkah resmi PBB untuk menarik perhatian dunia terhadap krisis kemanusiaan yang kian memburuk.
Kenapa PBB Baru Meresmikan Kelaparan Yang Terjadi di Gaza
Meski peringatan tentang risiko kelaparan di Gaza telah disuarakan sejak awal 2025, PBB baru mengesahkan status kelaparan pada 22 Agustus 2025 karena proses verifikasi IPC membutuhkan data yang ketat dan konsensus dari berbagai pihak. IPC menggunakan kriteria seperti lebih dari 20% populasi menghadapi kekurangan pangan ekstrem, tingkat kekurangan gizi akut di atas 30%, dan tingkat kematian akibat kelaparan melebihi dua orang per 10.000 penduduk per hari. Data ini sulit dikumpulkan di Gaza akibat konflik yang menghambat akses peneliti dan pekerja kemanusiaan ke wilayah tersebut.
Pembatasan ketat oleh otoritas Israel terhadap masuknya makanan dan bantuan ke Gaza, yang berlangsung selama berbulan-bulan, memperparah situasi. Selain itu, perubahan metrik pelaporan oleh IPC, yang disesuaikan untuk Gaza, mempermudah deklarasi kelaparan dibandingkan standar yang digunakan di wilayah konflik lain seperti Sudan. Meski begitu, PBB menghadapi kritik karena dianggap lambat bertindak, terutama setelah laporan UNRWA pada Maret 2025 memperingatkan bahwa 70% penduduk Gaza sudah berada di ambang kelaparan. Pengesahan ini akhirnya dilakukan setelah bukti tak terbantahkan menunjukkan lebih dari 500.000 orang di Gaza City menghadapi kelaparan fase 5, dengan proyeksi krisis meluas ke selatan Gaza pada September 2025.
Tanggapan Masyarakat Tentang Hal Ini
Pengumuman PBB memicu reaksi beragam di kalangan masyarakat global, terutama di media sosial seperti X. Banyak pengguna menyuarakan kemarahan dan kesedihan, dengan komentar seperti, “Ini kelaparan buatan manusia, dunia harus bertindak!” dan “PBB terlambat, ratusan ribu sudah menderita.” Sebagian menyalahkan pembatasan bantuan oleh Israel sebagai penyebab utama, sementara lainnya mendesak gencatan senjata segera untuk memungkinkan akses kemanusiaan. Dukungan untuk warga Gaza juga terlihat dari seruan donasi dan aksi solidaritas di berbagai negara, termasuk demonstrasi di Jakarta yang menyerukan bantuan internasional.
Namun, ada pula skeptisisme. Beberapa pengguna X mempertanyakan perubahan metrik IPC, menyebutnya sebagai upaya “politisasi” untuk mendeklarasikan kelaparan lebih cepat di Gaza dibandingkan wilayah lain. Meski begitu, mayoritas masyarakat mendesak tindakan nyata, seperti pengiriman bantuan pangan dan medis tanpa hambatan. Komunitas diaspora Palestina di Indonesia dan negara lain juga aktif menggalang dana untuk mendukung UNRWA, meski menghadapi tantangan karena krisis keuangan badan tersebut. Secara keseluruhan, respons masyarakat mencerminkan campuran keprihatinan mendalam dan frustrasi atas lambatnya tanggapan global terhadap krisis di Gaza.
Kesimpulan: PBB Nyatakan Gaza Resmi Alami Bencana Kelaparan
Pengesahan PBB bahwa Gaza mengalami bencana kelaparan pada 22 Agustus 2025 menyoroti krisis kemanusiaan yang parah di wilayah tersebut, dengan lebih dari 500.000 orang menghadapi kelaparan ekstrem. Sebagai organisasi global yang bertugas menangani isu kemanusiaan, PBB melalui IPC akhirnya mengonfirmasi situasi ini setelah proses verifikasi yang rumit, meski dianggap terlambat oleh banyak pihak akibat hambatan akses dan pembatasan bantuan. Respons masyarakat global menunjukkan solidaritas sekaligus kemarahan atas situasi yang dianggap sebagai kelaparan buatan manusia. Untuk mengatasi krisis ini, gencatan senjata dan akses bantuan tanpa hambatan menjadi kebutuhan mendesak. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa dunia harus bertindak cepat untuk mencegah penderitaan lebih lanjut, menegaskan pentingnya kerja sama internasional dalam menangani krisis kemanusiaan.