Trump Bentuk ‘Board of Peace’ Gaza di Davos. Presiden AS Donald Trump membuat gebrakan di World Economic Forum (WEF) Davos pada 22 Januari 2026 dengan secara resmi membentuk “Board of Peace” untuk mengawasi perdamaian Gaza. Awalnya dirancang sebagai entitas pengawas gencatan senjata dan rekonstruksi Gaza, Trump kemudian perlebar mandatnya untuk menangani konflik global lainnya. Ia tandatangani charter pendirian bersama wakil dari sekitar 20 negara, termasuk UAE, Hongaria, dan Pakistan, tapi tanpa kehadiran sekutu utama Eropa. Trump jadi ketua board ini dan bilang ini bisa bekerja sama dengan PBB, tapi beberapa pihak khawatir ini jadi saingan UN. Acara ini langsung jadi topik panas, terutama setelah Trump mundur dari ancaman kekerasan soal Greenland dan beralih fokus ke inisiatif perdamaian. MAKNA LAGU
Latar Belakang dan Tujuan ‘Board of Peace’: Trump Bentuk ‘Board of Peace’ Gaza di Davos
Ide Board of Peace muncul dari rencana perdamaian Gaza Trump yang diumumkan awal 2026. Awalnya, board ini bertugas awasi gencatan senjata Israel-Hamas, rekonstruksi infrastruktur, dan bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Tapi di Davos, Trump perlebar cakupannya untuk konflik lain seperti Ukraina dan Arktik, bilang “kita bisa sebarkan ke masalah lain kalau sukses di Gaza”. Trump tekankan board ini bukan pengganti UN, tapi “suplemen” yang lebih efisien dan langsung dipimpinnya. Mandat utama: pengawasan gencatan senjata, distribusi bantuan US$20 miliar dari AS dan mitra, dan integrasi teknologi seperti sistem pertahanan rudal untuk keamanan Gaza. Trump bilang ini “kesempatan sejarah” untuk bawa perdamaian abadi, tapi kritik muncul karena board ini terlihat seperti alat pengaruh AS tanpa keterlibatan Palestina atau Israel langsung di tahap awal.
Acara Penandatanganan di Davos: Trump Bentuk ‘Board of Peace’ Gaza di Davos
Penandatanganan charter berlangsung di sideline WEF Davos, dihadiri Trump dan wakil dari negara mitra. Sekitar 20 negara bergabung sebagai anggota pendiri, termasuk UAE, Hongaria, Pakistan, dan beberapa negara Asia serta Afrika. Trump bilang “ini hari yang menarik” dan sebut board ini bisa jadi “badan paling konsekuensial yang pernah dibuat”. Tidak ada sekutu Eropa utama seperti Jerman, Prancis, atau Inggris yang ikut—mereka khawatir board ini jadi rival UN dan kurang inklusif. Trump duduk sebagai ketua, dengan wakil dari UAE sebagai wakil ketua. Acara ini juga jadi momen Trump bicara soal Greenland, tapi fokus utama tetap Gaza. Charter board sebut prioritas awal: stabilisasi Gaza, rekonstruksi dengan dana AS, dan kerjasama dengan UN untuk bantuan kemanusiaan.
Reaksi dan Kontroversi
Reaksi campur aduk. Pemimpin UE seperti Ursula von der Leyen sebut inisiatif ini “langkah maju” tapi tuntut inklusi Palestina dan transparansi dana. Sekjen UN António Guterres bilang siap kerja sama, tapi ingatkan board jangan ganti peran UN. Beberapa negara Eropa tolak gabung karena anggap ini pemerasan AS setelah ancaman tarif. Di AS, bisnis senang karena potensi kontrak rekonstruksi Gaza, tapi kelompok HAM kritik karena kurang libatkan Palestina. Pasar saham naik setelah acara, tapi euro masih lemah. Kontroversi utama: apakah board ini benar-benar untuk perdamaian atau alat pengaruh Trump? Trump bilang “semua ingin gabung”, tapi faktanya hanya 20 negara dari 60 yang diundang.
Kesimpulan
Pembentukan Board of Peace oleh Trump di Davos jadi langkah berani tapi kontroversial untuk tangani Gaza dan konflik global. Dengan Trump sebagai ketua dan 20 negara pendiri, board ini berpotensi jadi alat perdamaian baru, tapi tanpa dukungan Eropa utama dan UN penuh, tantangan besar masih menanti. Ini bukti Trump lagi main keras di diplomasi, tapi kesuksesan tergantung inklusi dan transparansi. Semoga board ini benar-benar bawa perdamaian ke Gaza dan wilayah lain—dunia butuh solusi konkret, bukan retorika. Pantau terus perkembangannya—60 hari ke depan bakal tentukan apakah ini gebrakan nyata atau cuma wacana.