China Dukung Produksi Senjata Rusia di Ukraina

China Dukung Produksi Senjata Rusia di Ukraina

China Dukung Produksi Senjata Rusia di Ukraina. China kembali menjadi sorotan internasional setelah laporan terbaru mengungkap dugaan dukungannya terhadap produksi senjata Rusia yang digunakan dalam konflik Ukraina. Secara spesifik, Beijing diduga menyediakan peralatan canggih untuk membantu Moskow memperluas kapasitas manufaktur misil balistik Oreshnik, yang telah dua kali diluncurkan ke wilayah Ukraina. Meski China membantah tuduhan ini dan menegaskan posisi netralnya, fakta-fakta menunjukkan aliran teknologi dual-use senilai miliaran dolar yang memperkuat industri pertahanan Rusia di tengah sanksi Barat. Situasi ini menambah ketegangan geopolitik, terutama saat pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina sedang berlangsung di bawah mediasi AS. REVIEW FILM

Dukungan Peralatan Canggih dari China: China Dukung Produksi Senjata Rusia di Ukraina

Laporan mendetail menunjukkan China telah mengirimkan peralatan dan mesin manufaktur senilai lebih dari 10,3 miliar dolar AS ke Rusia sepanjang periode terkini. Peralatan ini termasuk mesin CNC (computer numerical control) lathe karusel buatan China, yang digunakan di pabrik Votkinsk Machine Building Plant di Republik Udmurtia—fasilitas utama produksi misil Oreshnik. Mesin-mesin ini krusial untuk memproduksi hulu ledak misil hipersonik yang mampu membawa muatan nuklir, dengan kecepatan yang membuatnya sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Selain itu, China menyediakan komponen seperti microchip, papan memori, bantalan bola, teleskop bidik, dan kristal piezoelektrik—semua dengan nilai jutaan dolar. Komponen ini tidak hanya mendukung produksi Oreshnik, tapi juga drone jarak jauh tipe Shahed yang diproduksi di Zona Ekonomi Khusus Alabuga, Republik Tatarstan. Aliran ini memungkinkan Rusia menghindari sanksi Barat, meningkatkan produksi senjata, dan mencapai kemandirian pertahanan lebih tinggi. Misalnya, Oreshnik—misil balistik jarak menengah—dapat mencapai target di Eropa dalam waktu kurang dari 20 menit, menjadi ancaman strategis yang diumbar Vladimir Putin untuk mengintimidasi Barat. Dukungan ini bagian dari pola lebih luas di mana China menyediakan teknologi dual-use, yang secara resmi untuk keperluan sipil tapi mudah dialihkan ke militer.

Bantahan Resmi dari Beijing: China Dukung Produksi Senjata Rusia di Ukraina

Pemerintah China dengan tegas membantah tuduhan ini melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun. Ia menyatakan posisi Beijing tetap konsisten: netral dalam konflik Ukraina, tidak menambah bahan bakar ke api perang, dan tidak memanfaatkan situasi untuk keuntungan sendiri. Guo menolak klaim bahwa China mendukung agresi Rusia, menyebutnya sebagai upaya memindahkan tanggung jawab ke Beijing. Pernyataan ini muncul tepat setelah laporan investigasi yang mengidentifikasi peralatan China di pabrik-pabrik Rusia.
Meski demikian, China memperingatkan Ukraina agar tidak menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan China yang diduga terlibat, dengan ancaman langkah balasan untuk melindungi kepentingan sah mereka. Ini mencerminkan sikap defensif Beijing, yang sering menekankan kemitraan strategis dengan Rusia tanpa mengakui bantuan militer langsung. Kemitraan ini semakin erat, terlihat dari pertemuan Menteri Pertahanan China Dong Jun dengan counterpart Rusia Andrey Belousov, di mana keduanya berjanji memperkuat koordinasi strategis di tengah perubahan lanskap keamanan global. Namun, Barat menuduh China memberikan dukungan ekonomi krusial yang memperpanjang kemampuan perang Rusia, meski tanpa pasokan senjata langsung.

Dampak pada Konflik Ukraina dan Geopolitik

Dukungan dugaan ini berdampak langsung pada medan perang di Ukraina. Rusia telah menggunakan Oreshnik untuk menyerang kota-kota Ukraina, termasuk serangan baru-baru ini yang menewaskan warga sipil dan merusak infrastruktur. Dengan bantuan peralatan China, Rusia bisa meningkatkan produksi drone dan misil, yang digunakan untuk serangan jarak jauh ke belakang Ukraina serta intersepsi udara di garis depan. Ini memaksa Ukraina mempertahankan posisi dengan sumber daya terbatas, sementara ofensif Rusia di wilayah timur seperti Pokrovsk terus berlanjut meski lambat.
Secara geopolitik, situasi ini memperburuk hubungan China dengan Barat. AS dan sekutunya menuduh Beijing memungkinkan perang berlanjut melalui dukungan tidak langsung, sementara pembicaraan damai di Abu Dhabi—dengan putaran berikutnya di Februari—terancam oleh eskalasi ini. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan Rusia sebagai teror yang melemahkan posisi Kyiv di meja negosiasi, mendesak tekanan internasional lebih besar terhadap Moskow dan mitranya. Di sisi lain, kemitraan Rusia-China dilihat sebagai front bersama melawan arsitektur keamanan Barat, dengan implikasi jangka panjang untuk stabilitas global.

Kesimpulan

Dugaan dukungan China terhadap produksi senjata Rusia di konflik Ukraina menyoroti kompleksitas kemitraan Beijing-Moskow di tengah sanksi internasional. Meski China membantah dan menekankan netralitas, aliran peralatan canggih telah membantu Rusia memperkuat arsenalnya, termasuk misil Oreshnik yang menjadi ancaman nuklir potensial. Ini tidak hanya memperpanjang penderitaan di Ukraina tapi juga menguji diplomasi global, terutama saat pembicaraan damai sedang berupaya mengakhiri perang yang hampir empat tahun ini. Bagi dunia, ini jadi pengingat bahwa dukungan tidak langsung bisa sama berbahayanya dengan bantuan langsung—memerlukan respons kolektif untuk menjaga keseimbangan kekuatan tanpa memicu konflik lebih luas.

BACA SELENGKAPNYA DI…

admin

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *