Banyak Titik Banjir di Jakarta Sudah Mengurang. Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak malam 11 Januari 2026 hingga pagi hari berikutnya tidak lagi menyebabkan genangan parah di banyak titik rawan seperti biasanya. Data pemantauan Dinas Sumber Daya Air menunjukkan bahwa dari 72 titik banjir yang biasa terendam saat curah hujan tinggi, kini hanya tersisa sekitar 18 titik dengan kedalaman air di bawah 30 cm pada siang hari 13 Januari. Penurunan signifikan ini menjadi tanda awal bahwa upaya normalisasi sungai, pengerukan waduk, serta penambahan pompa di beberapa kawasan mulai memberikan hasil nyata. Meski demikian, beberapa kelurahan masih waspada karena genangan masih ada di jalan protokol dan permukiman padat. REVIEW WISATA
Perbaikan Infrastruktur dan Pengaruhnya: Banyak Titik Banjir di Jakarta Sudah Mengurang
Salah satu penyebab utama penurunan titik banjir adalah penyelesaian tahap pertama normalisasi Sungai Ciliwung di segmen Manggarai hingga Karet. Lebar sungai yang bertambah serta dinding turap beton yang sudah terpasang membuat aliran air lebih lancar, sehingga limpasan tidak lagi meluber ke permukiman sekitar. Di wilayah Jakarta Selatan dan Timur, pengerukan Waduk Setu Babakan serta Waduk Pluit juga mulai terasa dampaknya. Volume tampungan yang bertambah mampu menahan air hujan lebih banyak sebelum dialirkan ke laut. Penambahan 12 unit pompa mobile di kawasan rawan seperti Kampung Melayu, Cawang, dan Jatinegara turut mempercepat penyedotan air ke saluran pembuangan. Hasilnya, genangan yang biasanya bertahan hingga 12 jam kini surut dalam waktu 3–5 jam saja, bahkan di beberapa titik hanya butuh kurang dari dua jam.
Kerja Sama Masyarakat dan Penanganan Cepat: Banyak Titik Banjir di Jakarta Sudah Mengurang
Selain infrastruktur, respons cepat petugas dan kesadaran warga juga berperan besar. Tim reaksi cepat dari kelurahan dan kecamatan mulai membersihkan saluran tersumbat sejak hujan reda, sehingga air tidak tertahan lama di badan jalan. Masyarakat di beberapa RW aktif melaporkan titik penyumbatan melalui aplikasi warga, sehingga penanganan bisa dilakukan dalam hitungan jam. Di kawasan rawan seperti Rawamangun dan Duren Sawit, warga sudah terbiasa mengangkat barang berharga ke tempat lebih tinggi begitu hujan deras mulai turun, sehingga kerugian material jauh lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pola ini menunjukkan bahwa kombinasi antara pekerjaan teknis pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat mulai membuahkan hasil yang terlihat.
Tantangan yang Masih Tersisa
Meski banyak titik sudah mengering, beberapa lokasi masih menjadi masalah karena faktor alami dan buatan. Kawasan pesisir utara seperti Pluit, Kamal Muara, dan Ancol masih mengalami rob yang diperparah hujan, sehingga genangan air asin bercampur air hujan mencapai 40–50 cm di beberapa ruas jalan. Di permukiman padat seperti Kampung Bandan dan Bidara Cina, saluran mikro yang sangat sempit serta tumpukan sampah masih menjadi penghambat utama. Selain itu, curah hujan ekstrem di hulu Ciliwung dan Cisadane yang mencapai lebih dari 150 mm dalam 6 jam membuat volume air yang masuk ke Jakarta tetap sangat besar. Pemerintah daerah menyatakan bahwa penanganan jangka pendek sudah cukup baik, namun solusi permanen masih membutuhkan pembangunan tanggul laut raksasa serta normalisasi sungai hingga ke hulu yang memakan waktu bertahun-tahun.
Kesimpulan
Penurunan drastis jumlah titik banjir di Jakarta pada awal 2026 menunjukkan bahwa investasi besar-besaran dalam infrastruktur drainase serta normalisasi sungai mulai memberikan hasil yang nyata. Meski tantangan rob, sampah, dan curah hujan ekstrem masih ada, kerja sama antara pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat membuat kota ini lebih tahan terhadap hujan deras dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Situasi ini menjadi bukti bahwa penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak, melainkan butuh komitmen bersama agar Jakarta tidak lagi terendam setiap kali hujan lebat turun. Langkah selanjutnya adalah mempertahankan momentum ini dengan pemeliharaan rutin serta pengawasan ketat terhadap pembangunan yang bisa mengganggu aliran air.