Cuaca Ekstrem: Angin Kencang Guyur Sulawesi Utara. Angin kencang dengan kecepatan signifikan kembali mengguyur wilayah Sulawesi Utara sejak beberapa hari terakhir, terutama pada 8–10 Februari 2026. Fenomena cuaca ekstrem ini menyebabkan pohon tumbang, baliho roboh, atap rumah terlepas, hingga gangguan listrik di beberapa kabupaten dan kota. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini yang diperpanjang hingga setidaknya 12 Februari 2026, menyebut adanya potensi angin kencang, hujan lebat, dan petir di sebagian besar wilayah Sulut. Dampaknya mulai terasa di Manado, Minahasa, Tomohon, Bitung, hingga Kepulauan Sangihe dan Talaud. Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat dan koordinasi cepat dari pemerintah daerah. Berikut ulasan kondisi terkini. REVIEW FILM
Penyebab dan Pola Cuaca Ekstrem Saat Ini: Cuaca Ekstrem: Angin Kencang Guyur Sulawesi Utara
Angin kencang yang melanda Sulawesi Utara dipicu oleh kombinasi beberapa faktor meteorologi. BMKG mencatat adanya daerah tekanan rendah di sekitar Laut Filipina bagian selatan yang berinteraksi dengan massa udara basah dari Samudra Pasifik. Selain itu, pola konvergensi angin di lapisan rendah dan pengaruh fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) fase aktif turut memperkuat kondisi tidak stabil di wilayah Sulawesi bagian utara.
Kecepatan angin dilaporkan mencapai 45–65 km/jam dengan arah dominan timur hingga tenggara di daratan, dan lebih kencang di wilayah kepulauan. Di beberapa stasiun pengamatan, seperti di Manado dan Bitung, angin sempat mencapai kategori kencang (≥50 km/jam) selama beberapa jam pada 9 Februari. Hujan lebat yang menyertai angin membuat kondisi semakin berisiko karena tanah menjadi jenuh dan pohon-pohon yang akarnya lemah mudah tumbang.
Peringatan dini BMKG menyebutkan potensi angin kencang masih dapat terjadi hingga pertengahan Februari, terutama di wilayah pesisir utara dan timur Sulut serta kepulauan. Curah hujan yang tinggi juga berpotensi memicu banjir bandang dan longsor di daerah perbukitan seperti Minahasa Utara, Minahasa Tenggara, dan Bolaang Mongondow.
Dampak terhadap Masyarakat dan Infrastruktur: Cuaca Ekstrem: Angin Kencang Guyur Sulawesi Utara
Dampak angin kencang sudah terasa nyata di berbagai daerah. Di Kota Manado, beberapa pohon besar tumbang menimpa rumah warga dan jaringan listrik di kawasan Mapanget, Paniki, dan Tumumpa. Di Kota Tomohon, sejumlah atap gereja dan sekolah rusak ringan hingga sedang. Di Bitung, angin kencang menyebabkan banyak kapal nelayan kecil terpaksa menepi dan beberapa dermaga mengalami kerusakan ringan.
Wilayah kepulauan terdampak paling parah. Di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud, angin kencang disertai gelombang tinggi 2,5–4 meter mengganggu aktivitas pelayaran antarpulau. Beberapa trayek kapal cepat ditangguhkan sementara. Di darat, banyak tiang listrik miring dan kabel putus sehingga ribuan pelanggan mengalami pemadaman listrik bergilir.
Di Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara, dan Bolaang Mongondow Selatan, laporan warga menyebut banyak baliho, spanduk, dan reklame jalan roboh. Beberapa sekolah dasar dan menengah meliburkan kegiatan belajar tatap muka pada 10 Februari sebagai langkah pencegahan. Petani di dataran tinggi melaporkan kerusakan pada tanaman sayur dan buah karena angin yang terlalu kencang.
BPBD provinsi dan kabupaten/kota telah mendirikan posko siaga dan menerjunkan tim reaksi cepat untuk membantu masyarakat membersihkan pohon tumbang serta mengevakuasi warga yang rumahnya rusak parah. Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa, tetapi beberapa warga mengalami luka ringan akibat tertimpa puing atau terpeleset saat membersihkan material.
Langkah Antisipasi dan Imbauan
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bersama BPBD terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memperbarui prakiraan cuaca setiap hari. Warga diminta untuk tidak beraktivitas di bawah pohon besar, tiang listrik, atau baliho yang sudah rapuh. Pengendara sepeda motor dan mobil diimbau mengurangi kecepatan serta menjauh dari daerah yang banyak pohon rindang atau konstruksi yang berpotensi roboh.
Bagi masyarakat pesisir dan kepulauan, nelayan kecil diminta menunda aktivitas melaut hingga gelombang kembali normal. Sekolah dan kantor pemerintahan diminta memantau perkembangan cuaca sebelum memutuskan kegiatan luar ruangan. Masyarakat juga diimbau menyiapkan cadangan penerangan darurat, makanan, dan air bersih mengantisipasi kemungkinan pemadaman listrik yang lebih lama.
Kesimpulan
Angin kencang yang terus mengguyur Sulawesi Utara menjadi pengingat bahwa musim transisi ini masih menyimpan potensi cuaca ekstrem. Meski belum menimbulkan korban jiwa, dampak material dan gangguan aktivitas sehari-hari sudah cukup signifikan. Dengan peringatan dini BMKG yang masih berlaku, kewaspadaan dan kesiapsiagaan tetap menjadi kunci mengurangi risiko. Kolaborasi antara pemerintah, BPBD, masyarakat, dan lembaga terkait diharapkan dapat meminimalkan kerugian lebih lanjut. Semoga kondisi cuaca segera membaik sehingga aktivitas dapat kembali normal tanpa harus terus berhadapan dengan ancaman angin kencang dan cuaca buruk di minggu-minggu mendatang. Tetap waspada dan saling mengingatkan selama periode ini.