Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di Bundaran UGM dan Malioboro pada 2 Februari 2026. Mereka menolak keras rencana pemerintah yang dikabarkan akan menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Turbo mulai Maret 2026. Aksi yang berlangsung damai namun tegas ini diikuti sekitar 800–1.200 mahasiswa dari UGM, UNY, UII, UAD, dan beberapa kampus swasta lainnya. Spanduk dan orasi mereka menyoroti beban ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah yang semakin berat akibat inflasi dan daya beli yang menurun. Demonstrasi ini menjadi salah satu respons terbesar di DIY terhadap isu kenaikan BBM sejak 2022. REVIEW FILM
Alasan Penolakan dan Tuntutan Mahasiswa: Demo Mahasiswa Tolak Kenaikan BBM di Yogyakarta
Mahasiswa menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi akan berdampak domino pada biaya transportasi, logistik, dan harga barang kebutuhan pokok. Saat ini harga Pertamax sudah berada di kisaran Rp 13.500–13.800 per liter, dan kenaikan Rp 1.000–1.500 per liter diperkirakan akan menambah beban pengeluaran rumah tangga hingga 8–12% per bulan. Mereka juga menyoroti ketidakadilan distribusi subsidi BBM yang masih dinikmati kendaraan mewah dan korporasi besar, sementara masyarakat kecil justru terdampak paling berat.
Tuntutan utama yang disuarakan:
Batalkan rencana kenaikan harga BBM nonsubsidi minimal hingga akhir 2026
Evaluasi ulang formula harga BBM yang mengikuti MOPS Platts dan kurs dolar
Tingkatkan transparansi dana kompensasi dan subsidi energi
Prioritaskan program transportasi umum murah dan elektrifikasi kendaraan roda dua
Beberapa orator juga menyinggung bahwa kebijakan ini bertentangan dengan semangat keadilan sosial yang diamanatkan UUD 1945.
Jalannya Aksi dan Respons Aparat: Demo Mahasiswa Tolak Kenaikan BBM di Yogyakarta
Aksi dimulai pukul 09.30 WIB dari Bundaran UGM, kemudian long march menuju Titik Nol Kilometer Malioboro. Massa berorasi bergantian di depan Kantor DPRD DIY dan Balai Kota Yogyakarta. Beberapa spanduk mencolok bertuliskan “BBM Naik, Rakyat Makin Susah” dan “Jangan Jadikan Rakyat Korban Kebijakan”. Aksi berlangsung damai tanpa bentrok; petugas kepolisian hanya melakukan pengamanan ringan dan pengalihan lalu lintas di Malioboro.
Perwakilan mahasiswa diterima oleh staf DPRD DIY untuk menyampaikan pernyataan sikap. Pihak Pemkot Yogyakarta melalui Kepala Bagian Humas menyatakan menghormati hak menyampaikan aspirasi dan berjanji akan menyampaikan tuntutan ke pemerintah pusat. Hingga sore hari, massa membubarkan diri secara tertib setelah orasi penutup.
Dampak Sosial dan Ekonomi yang Dikhawatirkan
Kenaikan BBM nonsubsidi dikhawatirkan akan langsung menaikkan ongkos angkutan umum, tarif ojek online, dan harga sembako. Di Yogyakarta, ongkos becak motor dan angkot diperkirakan naik 15–20%, sementara harga sayur dan lauk-pauk di pasar tradisional bisa melonjak karena biaya distribusi. Mahasiswa menilai kebijakan ini akan memperlebar kesenjangan sosial, terutama bagi keluarga miskin dan mahasiswa yang hidup dari kiriman orang tua.
Beberapa ekonom lokal memprediksi inflasi bulanan Februari–Maret bisa naik 0,4–0,7% jika kenaikan benar-benar diberlakukan. Aksi mahasiswa hari ini juga menjadi sinyal bahwa isu BBM masih sangat sensitif dan berpotensi memicu gelombang protes serupa di kota-kota besar lain.
Kesimpulan
Aksi mahasiswa Yogyakarta menolak kenaikan BBM nonsubsidi pada 2 Februari 2026 menunjukkan bahwa isu harga energi tetap menjadi salah satu pemicu ketegangan sosial terbesar di Indonesia. Ribuan demonstran yang turun ke jalan menyuarakan keresahan nyata masyarakat kelas menengah ke bawah yang merasa semakin terjepit. Pemerintah pusat kini berada di posisi sulit: harus menyeimbangkan kebutuhan subsidi energi dengan tekanan fiskal dan harga minyak dunia yang fluktuatif. Dialog terbuka dengan mahasiswa dan buruh diharapkan bisa melahirkan solusi yang adil, bukan sekadar penundaan sementara. Semoga aspirasi rakyat didengar dan kebijakan yang diambil benar-benar mengutamakan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya angka-angka ekonomi di atas kertas. Yogyakarta hari ini bicara, dan suara itu harus sampai ke Jakarta.