Dubes Iran Tinggalin Kantor usai Perintah Pengusiran

dubes-iran-tinggalin-kantor-usai-perintah-pengusiran

Dubes Iran Tinggalin Kantor usai Perintah Pengusiran. Kabar mengejutkan datang dari Australia pada 26 Agustus 2025, ketika Duta Besar Iran untuk Australia, Ahmad Sadeghi, diminta meninggalkan negara tersebut dalam waktu tujuh hari menyusul perintah pengusiran dari pemerintah Canberra. Keputusan ini diambil setelah Australia menuding Iran sebagai dalang di balik dua serangan antisemit di Sydney dan Melbourne, yang memicu ketegangan diplomatik. Ahmad Sadeghi, bersama tiga pejabat kedutaan lainnya, telah meninggalkan kantornya di Canberra, menandai pengusiran duta besar pertama Australia sejak Perang Dunia Kedua. Apa latar belakang dubes ini, siapa yang mengeluarkan perintah pengusiran, dan bagaimana tanggapan Sadeghi? Berikut ulasan singkatnya. BERITA BOLA

Siapa Dubes Iran
Ahmad Sadeghi adalah diplomat senior Iran yang menjabat sebagai Duta Besar Republik Islam Iran untuk Australia sejak 2022. Sebelumnya, ia memiliki pengalaman panjang di Kementerian Luar Negeri Iran, termasuk menjabat di berbagai misi diplomatik di kawasan Timur Tengah dan Asia. Sadeghi dikenal sebagai sosok yang vokal dalam mempertahankan kepentingan Iran, terutama dalam isu-isu sensitif seperti program nuklir dan hubungan dengan Barat. Di Australia, ia aktif mempromosikan hubungan bilateral, meskipun hubungan Canberra-Teheran kerap tegang akibat perbedaan pandangan terhadap konflik Israel-Palestina dan sanksi internasional terhadap Iran. Selama masa jabatannya, Sadeghi sering menyampaikan pernyataan keras terhadap kebijakan Australia yang dianggap pro-Israel, termasuk pengakuan Canberra terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Ia juga dikenal dekat dengan komunitas diaspora Iran di Australia, yang berjumlah sekitar 70.000 orang.

Siapa yang Membuat Perintah Pengusiran Tersebut
Perintah pengusiran terhadap Ahmad Sadeghi dan tiga pejabat kedutaan Iran dikeluarkan oleh pemerintah Australia di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Anthony Albanese. Keputusan ini diumumkan pada 26 Agustus 2025, setelah Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO) mengklaim memiliki bukti kredibel bahwa Iran, melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengarahkan dua serangan antisemit di Sydney dan Melbourne. Menteri Luar Negeri Penny Wong menyatakan bahwa tindakan Iran “sama sekali tidak dapat diterima” dan menegaskan pengusiran ini sebagai langkah tegas untuk melindungi keamanan nasional. Selain itu, Menteri Dalam Negeri Tony Burke membantah klaim adanya intervensi Israel dalam keputusan ini, menegaskan bahwa pengusiran murni berdasarkan temuan intelijen Australia. Bersamaan dengan pengusiran, Australia juga menarik duta besarnya dari Teheran dan menangguhkan operasional kedutaan di sana, dengan diplomat-dipomatnya dipindahkan ke negara ketiga untuk keamanan.

Tanggapan Dubes Iran Atas Pengusiran Itu
Ahmad Sadeghi menanggapi perintah pengusiran dengan keras, menyebutnya sebagai “tindakan tidak berdasar dan bermotif politik.” Dalam pernyataan resmi sebelum meninggalkan Canberra, ia membantah tuduhan bahwa Iran terlibat dalam serangan antisemit, menegaskan bahwa Iran selalu menentang kekerasan terhadap komunitas agama mana pun. Sadeghi menuding Australia telah dipengaruhi oleh tekanan eksternal, khususnya dari Israel dan Amerika Serikat, untuk mengambil langkah ini sebagai bagian dari upaya melemahkan posisi Iran di panggung internasional. Ia juga menyayangkan bahwa keputusan ini dapat merusak hubungan bilateral yang telah dibangun selama bertahun-tahun, termasuk kerja sama perdagangan dan dialog budaya. Sebelum meninggalkan kantornya pada 27 Agustus 2025, Sadeghi mengadakan pertemuan dengan staf kedutaan dan komunitas Iran di Canberra, menyerukan solidaritas dan ketenangan. Ia menyatakan akan melanjutkan tugas diplomatiknya dari Teheran untuk memperjuangkan kepentingan Iran, termasuk menanggapi tuduhan Australia melalui jalur diplomatik resmi.

Kesimpulan: Dubes Iran Tinggalin Kantor usai Perintah Pengusiran
Pengusiran Duta Besar Iran Ahmad Sadeghi dari Australia pada Agustus 2025 menandai eskalasi ketegangan diplomatik antara Canberra dan Teheran, dipicu oleh tuduhan keterlibatan Iran dalam serangan antisemit. Sebagai diplomat berpengalaman, Sadeghi menjadi pusat kontroversi ini, dengan Australia di bawah PM Anthony Albanese mengambil langkah tegas berdasarkan laporan intelijen ASIO. Tanggapan keras Sadeghi mencerminkan sikap Iran yang menolak tuduhan dan menuding adanya agenda politik di balik pengusiran. Insiden ini tidak hanya memperburuk hubungan bilateral, tetapi juga menyoroti kompleksitas isu geopolitik di tengah konflik Israel-Iran yang sedang berlangsung. Ke depan, langkah Australia ini mungkin memengaruhi dinamika diplomatik di kawasan Indo-Pasifik, sementara Iran kemungkinan akan mencari cara untuk membalas melalui saluran resmi. Kasus ini menjadi pengingat bahwa diplomasi sering kali diuji oleh ketegangan politik dan keamanan, dengan konsekuensi yang dirasakan jauh melampaui batas negara.

 

BACA SELENGKAPNYA DI…

admin

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *