Erupsi Gunung Lewotobi, Abu Tebal di Flores. Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali erupsi besar pada Kamis malam hingga Jumat pagi (12–13 Februari 2026). Kolom abu vulkanik setinggi 10.000–12.000 meter di atas puncak teramati sejak pukul 22.30 WITA, disertai lontaran lava pijar dan guguran awan panas. Hingga Jumat sore, abu tebal menyelimuti hampir seluruh Flores Timur, Larantuka, dan sebagian Flores Tengah. Status Gunung Lewotobi dinaikkan ke level IV (Awas) sejak pukul 01.00 WITA Jumat. Ribuan warga di sekitar lereng barat dan selatan dievakuasi, sementara penerbangan di Bandara Frans Seda Maumere ditutup sementara. Erupsi kali ini menjadi salah satu yang terbesar sejak Desember 2024, menimbulkan kekhawatiran akan dampak kesehatan dan perekonomian masyarakat setempat. REVIEW FILM
Kronologi Erupsi dan Dampak Langsung: Erupsi Gunung Lewotobi, Abu Tebal di Flores
Erupsi eksplosif dimulai dengan gempa vulkanik dalam yang meningkat sejak Rabu malam, diikuti letusan freatomagmatik besar sekitar pukul 22.30 WITA. Kolom abu berwarna kelabu kecokelatan mencapai ketinggian 12 km, terdorong angin timur menuju barat daya. Abu vulkanik tebal jatuh di Kecamatan Wulanggitang, Boru, dan Larantuka, menutupi jalan raya hingga ketebalan 3–5 cm. Di Desa Boru dan Hewa, visibilitas hanya 10–20 meter selama puncak erupsi.
Dampak terasa luas: lebih dari 3.500 warga di enam desa sekitar lereng dievakuasi ke posko-posko pengungsian di gereja, sekolah, dan balai desa. Dua orang mengalami sesak napas akibat menghirup abu dan langsung dilarikan ke Puskesmas terdekat. Jalan nasional Larantuka–Maumere tertutup total di beberapa titik karena material longsor dan abu tebal. PLN mencatat 1.800 pelanggan mengalami pemadaman listrik akibat tiang roboh tertimpa material erupsi. Penerbangan dari dan ke Bandara Frans Seda ditangguhkan sejak Jumat pagi, mengganggu mobilitas warga dan distribusi logistik. Peternakan ayam dan ternak sapi di kawasan terdampak mulai terancam karena pakan tertutup abu, sementara lahan pertanian jagung dan sayur tertimbun debu vulkanik.
Upaya Penanganan dan Bantuan: Erupsi Gunung Lewotobi, Abu Tebal di Flores
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memperluas radius bahaya menjadi 7 km dari kawah, dan merekomendasikan evakuasi wajib bagi warga di zona 5–7 km. BPBD Flores Timur bersama TNI-Polri, Basarnas Kupang, dan relawan setempat mendirikan 12 posko pengungsian yang menampung sekitar 3.200 jiwa. Distribusi masker N95, air minum, paket sembako, dan selimut sudah mulai dilakukan sejak Jumat siang.
Gubernur NTT Viktor Laiskodat menyatakan telah mengalokasikan dana siaga provinsi Rp5 miliar dan meminta bantuan tambahan dari BNPB. Kementerian Kesehatan mengirimkan tim medis darurat lengkap dengan obat-obatan pernapasan dan masker untuk mencegah penyakit ISPA. PLN dan Telkom berupaya memulihkan listrik dan komunikasi di daerah terdampak, sementara Dinas Pertanian NTT menyiapkan bantuan bibit dan pupuk bagi petani yang lahan terdampak abu. BMKG memperpanjang peringatan dini hingga Minggu malam karena potensi erupsi susulan dan hujan lebat yang dapat memicu lahar dingin.
Kesimpulan
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki kali ini menjadi pengingat keras bahwa wilayah Flores Timur memang berada di zona bahaya vulkanik aktif. Abu tebal yang menyelimuti puluhan desa tidak hanya mengganggu mobilitas dan kesehatan, tapi juga mengancam mata pencaharian petani dan nelayan yang sudah tertekan sejak erupsi sebelumnya. Respons cepat dari pemerintah daerah, provinsi, dan pusat patut diapresiasi, terutama dalam evakuasi dan distribusi bantuan. Namun kejadian ini juga menegaskan perlunya pembangunan infrastruktur tahan bencana, sistem peringatan dini yang lebih baik, dan edukasi masyarakat agar siap menghadapi erupsi besar. Semoga erupsi ini segera mereda dan warga yang mengungsi bisa kembali ke rumah dengan aman. Flores memang indah, tapi gunung-gunungnya punya kekuatan yang harus dihormati dan diwaspadai setiap saat.