Gaza Rebuild: Kushner Usul Master Plan $30 Miliar. Jared Kushner, mantan penasihat senior Presiden Donald Trump, kembali mengemukakan gagasan ambisius untuk rekonstruksi Gaza. Pada 29 Januari 2026, melalui wawancara eksklusif dengan Fox Business dan postingan di platform X, Kushner mengusulkan “master plan” senilai sekitar US$ 30 miliar untuk membangun kembali Gaza menjadi kawasan ekonomi modern pasca-konflik. Rencana ini mencakup pembangunan infrastruktur dasar, kawasan industri, pelabuhan komersial, dan zona wisata pesisir, dengan model pendanaan campuran dari negara-negara Teluk, Amerika Serikat, dan investor swasta. Usulan ini muncul di tengah gencatan senjata sementara yang masih rapuh dan diskusi internasional tentang masa depan Gaza setelah lebih dari setahun konflik berkepanjangan. REVIEW FILM
Isi Utama Master Plan Kushner dalam Rencana Gaza Rebuild: Gaza Rebuild: Kushner Usul Master Plan $30 Miliar
Kushner menggambarkan Gaza sebagai “potensi Singapura-nya Timur Tengah” jika dikelola dengan benar. Rencana US$ 30 miliar itu dibagi menjadi beberapa pilar utama:
Infrastruktur dasar (US$ 10–12 miliar): pembangunan kembali jaringan listrik, air bersih, pengolahan limbah, dan jalan raya utama yang hancur total.
Kawasan ekonomi khusus (US$ 8–10 miliar): pembangunan zona industri ringan, teknologi, dan logistik di sekitar pelabuhan Gaza yang akan direvitalisasi. Kushner menekankan bahwa kawasan ini harus dikelola oleh entitas independen dengan standar internasional agar menarik investor.
Pelabuhan dan konektivitas (US$ 5–7 miliar): rekonstruksi pelabuhan Gaza menjadi hub perdagangan regional, lengkap dengan terminal kontainer dan fasilitas pendukung.
Perumahan dan wisata (US$ 5 miliar): pembangunan ribuan unit rumah tahan gempa dan pengembangan kawasan pesisir sebagai destinasi wisata.
Pendanaan utama diharapkan datang dari negara-negara Teluk (terutama Arab Saudi, UEA, dan Qatar) yang selama ini sudah menyatakan minat investasi besar-besaran jika situasi keamanan stabil. Kushner juga menyebut partisipasi swasta dari perusahaan teknologi dan infrastruktur Amerika serta Eropa. Menurutnya, Gaza bisa menghasilkan pendapatan sendiri dalam 5–7 tahun jika dikelola dengan baik dan bebas dari pengaruh kelompok bersenjata.
Respons dari Berbagai Pihak Terhadap Rencana Gaza Rebuild: Gaza Rebuild: Kushner Usul Master Plan $30 Miliar
Pemerintah Israel belum memberikan komentar resmi, namun beberapa pejabat senior menyatakan bahwa rencana semacam ini hanya mungkin jika Hamas benar-benar dilepaskan dari kendali Gaza dan digantikan oleh otoritas sipil yang netral. Di pihak Palestina, Otoritas Palestina menyambut gagasan investasi besar-besaran, tapi menekankan bahwa rekonstruksi harus berada di bawah kendali penuh Palestina dan tidak boleh mengabaikan hak politik rakyat Gaza. Hamas melalui juru bicaranya menyebut usulan Kushner sebagai “fantasi kolonial” dan menolak setiap rencana yang tidak mengakui hak penuh Palestina atas Gaza. Di Washington, pemerintahan Trump menyatakan bahwa rencana tersebut selaras dengan visi “ perdamaian ekonomi” yang pernah diusung pada masa lalu. Beberapa analis Timur Tengah memandang usulan ini sebagai upaya membuka jalan normalisasi lebih luas antara Israel dan negara-negara Teluk, dengan Gaza sebagai proyek ekonomi bersama.
Tantangan dan Realitas di Lapangan
Meski visi Kushner terdengar menarik, tantangan di lapangan sangat besar. Lebih dari 70% infrastruktur Gaza hancur, termasuk rumah sakit, sekolah, jaringan listrik, dan sistem air bersih. Biaya rekonstruksi yang realistis menurut PBB dan Bank Dunia diperkirakan mencapai US$ 50–80 miliar dalam 10 tahun, jauh lebih tinggi dari angka US$ 30 miliar yang disebut Kushner. Selain itu, keamanan tetap menjadi prasyarat utama—tanpa jaminan stabilitas politik dan militer, investor besar tidak akan berani masuk. Kushner sendiri mengakui bahwa rencana ini hanya bisa terwujud jika ada “perubahan kepemimpinan dan komitmen keamanan” di Gaza. Ia menekankan bahwa dana tidak akan mengalir jika Hamas masih memegang kendali.
Kesimpulan
Usulan Jared Kushner untuk master plan rekonstruksi Gaza senilai US$ 30 miliar kembali mencuri perhatian dunia pada akhir Januari 2026. Rencana yang ambisius ini menjanjikan transformasi Gaza menjadi kawasan ekonomi modern dengan pendanaan dari Teluk dan swasta internasional. Namun realitas di lapangan—kehancuran masif, ketidakpastian keamanan, dan penolakan dari berbagai pihak Palestina—menjadikan gagasan ini masih jauh dari kenyataan. Meski begitu, usulan ini membuka kembali diskusi tentang “perdamaian ekonomi” sebagai jalan keluar dari konflik berkepanjangan. Apakah rencana ini akan menjadi blueprint masa depan Gaza atau hanya retorika politik, waktu yang akan menjawab. Yang pasti, Gaza membutuhkan lebih dari sekadar uang—ia membutuhkan stabilitas, keadilan, dan kepemimpinan yang mampu membangun masa depan bagi rakyatnya.