Gunung Semeru Erupsi Malam 19 Februari, Sudah 44 Kali. Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitasnya yang tinggi pada malam 19 Februari 2026. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat erupsi terjadi sekitar pukul 21.45 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai 1.200 meter di atas puncak atau sekitar 5.000 meter di atas permukaan laut. Erupsi ini menjadi yang ke-44 kali sepanjang tahun 2026 hingga tanggal tersebut, menandakan bahwa Semeru masih berada pada fase erupsi berkelanjutan. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat daya, sementara lontaran batu pijar terdeteksi hingga radius 1,5 km dari kawah Jonggring Saloko. Status Gunung Semeru tetap di level III (Siaga) sejak akhir 2025, dan warga diimbau tetap waspada terhadap potensi lahar hujan serta guguran awan panas. VENUE NIKAH
Kronologi Erupsi dan Dampak Langsung: Gunung Semeru Erupsi Malam 19 Februari, Sudah 44 Kali
Erupsi malam itu berlangsung sekitar 3 menit 45 detik dengan amplitudo gempa vulkanik mencapai 28 mm dan durasi 145 detik. Kolom abu terlihat dari Pos Pengamatan Gunung Api Semeru di Gunung Sawit, Lumajang, dengan estimasi kecepatan angin 10–15 knot ke arah barat daya. Hingga pukul 23.00 WIB, hujan abu tipis dilaporkan di beberapa desa di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo, Lumajang, serta wilayah Pronojiwo dan Senduro. Tidak ada laporan korban jiwa atau kerusakan infrastruktur signifikan, namun abu vulkanik sempat mengganggu visibilitas di jalan nasional Lumajang-Malang segmen Senduro–Tiris. Petugas BPBD Lumajang langsung melakukan penyisiran dan membagikan masker serta air bersih kepada warga yang terdampak hujan abu. PVMBG juga mencatat adanya guguran lava pijar dengan jarak luncur maksimal 2 km ke arah Besuk Kobokan dan Besuk Bang, sesuai dengan pola erupsi sebelumnya di tahun ini.
Pola Erupsi 2026 dan Status Terkini: Gunung Semeru Erupsi Malam 19 Februari, Sudah 44 Kali
Sepanjang 2026, Gunung Semeru telah mengalami 44 kali erupsi eksplosif hingga 19 Februari, dengan rata-rata 2–3 kali per minggu. Mayoritas erupsi terjadi di malam hingga dini hari, didominasi oleh tipe erupsi Strombolian hingga Vulcanian dengan tinggi kolom abu 600–1.500 meter. Guguran lava pijar dan awan panas gugur juga masih sering terjadi, terutama ke sektor tenggara (Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Sat, dan Besuk Kembar). Hingga saat ini, status tetap Siaga (level III) sejak 4 Desember 2022, dengan rekomendasi:
Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah Jonggring Saloko.
Waspada terhadap potensi lahar hujan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, terutama saat hujan lebat.
Penambangan pasir di aliran Besuk Kobokan tetap dilarang karena risiko awan panas gugur.
PVMBG terus memantau melalui Pos Pengamatan di Gunung Sawit dan Pos Klakah, serta drone termal dan seismograf untuk mendeteksi perubahan aktivitas. Hingga pagi 20 Februari 2026, aktivitas vulkanik masih tinggi dengan tremor kontinu dan gempa vulkanik dalam yang cukup intens.
Dampak Sosial dan Respons Pemerintah
Erupsi malam 19 Februari tidak menyebabkan pengungsian massal, tapi BPBD Lumajang tetap membuka posko siaga 24 jam di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo. Masker dan logistik dasar sudah didistribusikan ke 12 desa terdampak hujan abu tipis. Pemerintah Kabupaten Lumajang juga mengimbau warga untuk tidak panik dan tetap mengikuti rekomendasi PVMBG. Di sisi lain, erupsi rutin ini mulai memengaruhi aktivitas wisatawan di kawasan Gunung Semeru—jalur pendakian resmi melalui Ranu Pani masih ditutup sejak awal tahun, dan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menerapkan pembatasan akses ke beberapa titik pandang. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyatakan siap membantu evakuasi jika aktivitas meningkat tajam, sementara Kementerian ESDM melalui Badan Geologi terus mengawal pemantauan secara real-time.
Kesimpulan
Erupsi Gunung Semeru pada malam 19 Februari 2026 yang menjadi yang ke-44 sepanjang tahun menegaskan bahwa gunung api tertinggi di Pulau Jawa ini masih berada dalam fase erupsi berkelanjutan. Meski belum menimbulkan korban jiwa atau kerusakan besar, kejadian ini mengingatkan warga dan wisatawan untuk tetap waspada terhadap potensi lahar hujan dan awan panas gugur. Status Siaga level III yang dipertahankan sejak akhir 2022 serta pemantauan ketat PVMBG menunjukkan upaya serius pemerintah menjaga keselamatan masyarakat. Di tengah Februari 2026, erupsi rutin Semeru menjadi pengingat bahwa hidup berdampingan dengan gunung api membutuhkan kewaspadaan berkelanjutan—bukan hanya saat terjadi letusan besar, tapi juga di setiap hembusan kecil yang bisa menjadi awal dari ancaman lebih serius.
(Word count: 728)