Korban yang Tewas di Banjir Thailand Meningkat Jadi 162 Orang. Thailand sedang berduka mendalam usai banjir bandang dahsyat yang melanda selatan negeri itu sejak akhir pekan lalu. Angka korban tewas melonjak menjadi 162 orang per 29 November 2025, menurut juru bicara pemerintah Siripong Angkasakulkiat, dengan provinsi Songkhla paling parah terdampak—setidaknya 126 jiwa raib di sana saja. Banjir ini, dipicu hujan lebat akibat badai tropis, sudah genangi 12 provinsi, seret 1,4 juta rumah tangga dan 3,8 juta jiwa. Ribuan warga mengungsi, jalan raya lumpuh, dan kerusakan infrastruktur mencapai miliaran baht. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul akui kegagalan respons pemerintah, tapi janji kompensasi cepat. Di tengah air surut yang mulai ungkap puing, Thailand hadapi bencana terburuk dalam dekade, picu tuntutan reformasi manajemen bencana. INFO CASINO
Kronologi Banjir yang Meluas: Korban yang Tewas di Banjir Thailand Meningkat Jadi 162 Orang
Banjir bermula akhir pekan lalu di selatan Thailand, terutama Songkhla dan Hat Yai, kota dagang dekat perbatasan Malaysia. Hujan deras capai 500 mm dalam 48 jam, banjiri sungai-sungai seperti Sungai Luang hingga meluap. Air setinggi 3 meter genangi pusat kota Hat Yai, lumpuhkan rumah sakit, sekolah, dan mal. Pada 27 November, angka tewas masih 33, tapi melonjak ke 145 pada 28 November saat air surut dan tim penyelamat gali puing. Songkhla catat lonjakan dari 6 ke 110 korban dalam sehari, banyak ditemukan di rumah atau kendaraan terendam. Total, delapan provinsi terdampak: Nakhon Si Thammarat, Pattani, Yala, Trang, Satun, Patthalung, Phatthalung, dan Songkhla. Lebih dari 700 km jalan rusak, 33.000 rumah hancur, dan listrik mati di ribuan desa. Tim penyelamat evakuasi 50.000 orang, tapi 200 masih hilang di daerah terpencil.
Dampak Ekonomi dan Sosial yang Parah: Korban yang Tewas di Banjir Thailand Meningkat Jadi 162 Orang
Bencana ini tak cuma rampas nyawa, tapi juga hancurkan roda ekonomi selatan Thailand. Hat Yai, pusat perdagangan, lumpuh total—mal seperti Hat Yai Mega Mall tutup, dan pariwisata jatuh 70 persen. Kerusakan diperkirakan capai 50 miliar baht, termasuk 1.200 kendaraan rusak dan lahan sawah tenggelam. Warga seperti May Noopannoy, yang nyari ayahnya selama tujuh hari, cerita pilu: “Saya tak bisa tidur, makan, atau kerja—hanya khawatir.” Keluarga terpisah, anak-anak yatim, dan lansia kehilangan obat-obatan. Rumah sakit Sungai Buloh overload, dengan morgue penuh sampai pakai truk pendingin. Di media sosial, tagar #ThailandFlood kumpul jutaan unggah, tuntut pemerintah akui kecerobohan seperti keterlambatan peringatan dini.
Respons Pemerintah yang Dikritik Tajam
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul kunjungi Hat Yai pada 28 November, akui “kekurangan manajemen banjir” dan salahkan cuaca ekstrem. Ia alokasikan 7 miliar baht untuk bantuan, termasuk 10.000 baht per keluarga korban dan unit sementara untuk 2.000 rumah. Departemen Pencegahan Bencana kerahkan 1.200 petugas, tapi kritik mengalir deras: respons lambat, peringatan tak tepat waktu, dan dana tak merata. Oposisi tuntut investigasi, sebut banjir ini “bisa dicegah” dengan bendungan lebih baik. Internasional bantu: AS kirim tim SAR, China donasi 100 juta yuan, dan ASEAN adakan rapat darurat. Pada 29 November, air mulai surut di sebagian besar provinsi, tapi Pattani dan Nakhon Si Thammarat masih darurat.
Kesimpulan
Banjir selatan Thailand yang rampas 162 nyawa jadi pukulan telak bagi negeri gajah putih, ungkap kerentanan di tengah perubahan iklim. Dari Hat Yai yang lumpuh hingga ribuan pengungsi, dampaknya melampaui angka—ia cerita tentang keluarga tercerai dan ekonomi terpuruk. Respons pemerintah yang dikritik jadi pelajaran pahit, tapi komitmen Anutin untuk kompensasi cepat beri harapan. Saat air surut, Thailand harus bangkit: perkuat infrastruktur, tingkatkan peringatan dini, dan siap hadapi musim hujan ekstrem lagi. Korban ini tak boleh sia-sia—ia panggilan untuk Thailand lebih tangguh. Di balik duka, warga tunjukkan solidaritas, saling bantu di tengah puing—bukti semangat yang tak tergoyahkan.