Sri Lanka Kerahkan Tentara Usai Banjir Besar. Sri Lanka lagi berjuang mati-matian hadapi banjir bandang terburuk dalam dua dekade terakhir. Badai tropis Ditwah yang mendarat 26 November 2025 picu hujan deras hingga 200 mm/hari, banjiri sungai-sungai utama dan longsorkan lereng bukit. Korban jiwa capai 123 orang, dengan 130 masih hilang, sementara hampir setengah juta warga terdampak di 15 distrik. Pemerintah langsung kerahkan lebih dari 20.500 tentara untuk bantu evakuasi dan bagikan bantuan—helikopter, perahu karet, dan kendaraan lapis baja jadi andalan utama. Pusat Manajemen Bencana (DMC) tetapkan status darurat nasional, tutup sekolah dan kantor pemerintah, serta tunda ujian A-level. Ini bencana musim monsun yang diperparah siklon, dan tentara jadi garda terdepan selamatkan ribuan nyawa di tengah air yang masih naik. INFO CASINO
Penyebab Banjir dan Dampak Awal: Sri Lanka Kerahkan Tentara Usai Banjir Besar
Badai Ditwah mulai sebagai depresi rendah di Samudra Hindia, lalu intai jadi siklon saat dekati pantai timur Sri Lanka. Hujan lebat sejak 24 November bikin Sungai Kelani dan Gin Ganga meluap, banjiri Kolombu, Badulla, dan Nuwara Eliya. Longsor lumpur hanyutkan rumah, jalan, dan rel kereta—sekitar 15.000 rumah rusak, 44.000 orang mengungsi ke tempat penampungan sementara. Di daerah teh Badulla, 25 orang tewas tertimbun longsor, sementara 21 hilang di Nuwara Eliya. Kerugian ekonomi capai miliaran rupee, rusak sawah dan infrastruktur. Cuaca ekstrem ini langka untuk musim monsun timur laut, tapi perubahan iklim bikin hujan lebih ganas—seperti banjir 2003 yang ambil 254 nyawa. DMC peringatkan evakuasi segera di lembah sungai rendah, karena air masih naik 48 jam ke depan.
Peran Tentara dalam Operasi Penyelamatan: Sri Lanka Kerahkan Tentara Usai Banjir Besar
Tentara Sri Lanka langsung gerak cepat sejak 25 November. Lebih dari 20.500 prajurit dari angkatan darat, laut, dan udara dikerahkan ke 15 distrik terdampak—fokus evakuasi warga terjebak. Helikopter bawa makanan, obat, dan selimut ke daerah terpencil, sementara perahu karet selamatkan keluarga di rumah dua lantai yang banjir setinggi pinggang. Di Kolombu, pasukan angkut 60 turis India yang terdampar ke ibu kota. Menteri Perhubungan Bimal Rathnayake bilang, bus penumpang di Kala Wewa dievakuasi pakai helikopter setelah terjebak 1,5 jam. Rel kereta dibersihkan dari puing, dan jalan provinsi dibuka ulang meski longsor tutup ratusan kilometer. Ini mirip operasi 2020 saat banjir ambil 26 nyawa—tentara tak cuma selamatkan orang, tapi juga bagikan air bersih dan cegah penyakit pasca-banjir.
Bantuan Internasional dan Respons Lokal
Sri Lanka minta bantuan global Jumat lalu, dan respons cepat datang. Perdana Menteri India Narendra Modi umumkan “Operation Sagar Bandhu” dengan kirim bantuan darurat—obat, makanan, dan tim medis. Uni Eropa siap kirim dana, sementara negara tetangga seperti Bangladesh tawarkan relawan. Lokal, parlemen tunda debat anggaran agar anggota balik ke daerah. Sekolah tutup nasional, ujian A-level ditunda, dan kereta dibatasi cuma layanan esensial. Warga seperti Akma di Kolombu, yang selamat di lantai dua dengan bayi 1,5 tahun, cerita: “Air naik cepat, tapi tentara datang tepat waktu.” DMC catat, hampir 700 rumah rusak parah, tapi solidaritas warga kuat—mereka bagi makanan di penampungan.
Kesimpulan
Banjir bandang Ditwah di Sri Lanka ambil 123 nyawa dan lumpuhkan setengah juta orang, tapi kerahan 20.500 tentara jadi harapan nyata di tengah lumpur dan air. Dari evakuasi helikopter hingga bantuan India, respons cepat ini tunjukkan ketangguhan negara pulau itu hadapi bencana iklim. Musim monsun ini peringatkan: tanpa adaptasi lebih baik, longsor dan banjir bakal sering. Tapi dengan solidaritas global dan lokal, Sri Lanka bisa bangkit—selamatkan yang tersisa, dan bangun ulang lebih tangguh. Korban ini tak sia-sia jika jadi pelajaran untuk masa depan.