WNI Ikut Jadi Korban Kebakaran Apartemen di Hong Kong. Tragedi kebakaran di kompleks apartemen Wang Fuk Court, Tai Po, Hong Kong, kini tambah pil pahit bagi Indonesia. Dua Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga tewas dalam bencana yang tewaskan total 94 orang hingga Jumat pagi, 28 November 2025. Selain itu, dua WNI lain luka-luka. Api yang melahap tujuh dari delapan menara setinggi 31 lantai bermula Rabu sore dari scaffolding renovasi, cepat menyebar karena material mudah terbakar. Lebih dari 270 orang masih hilang, sementara 900 penghuni mengungsi. Kementerian Luar Negeri RI langsung gerak cepat: Konsulat Jenderal RI di Hong Kong konfirmasi identitas korban dan beri bantuan. Ini jadi kebakaran paling mematikan di Hong Kong sejak 1957, dan bagi WNI, tambah daftar panjang korban di negeri tetangga. INFO TOGEL
Identitas Korban WNI dan Upaya Konsulat: WNI Ikut Jadi Korban Kebakaran Apartemen di Hong Kong
Kedua korban tewas adalah pekerja rumah tangga migran berusia 30-an, yang tinggal di lantai atas salah satu menara yang paling parah terbakar. Konsulat Jenderal RI di Hong Kong identifikasi mereka sebagai dua perempuan asal Jawa Timur, yang bekerja untuk keluarga di kompleks itu sejak 2023. Dua korban luka-luka dirawat di rumah sakit setempat karena menghirup asap dan luka bakar ringan—mereka stabil tapi trauma berat. Kemenlu RI umumkan Kamis malam: “Kami beri dukungan penuh, termasuk biaya pemakaman dan pemulangan jenazah.” Konsul Jenderal Adiningsih menangis saat konferensi pers: “Mereka datang mencari rezeki, tapi pergi terlalu cepat.” Konsulat hubungi 150 WNI lain di area Tai Po untuk konfirmasi aman, dan buka hotline darurat.
Latar Belakang Kebakaran dan Kondisi Korban: WNI Ikut Jadi Korban Kebakaran Apartemen di Hong Kong
Api pertama terdeteksi pukul 15.00 Rabu di Wang Cheong House, diduga dari scaffolding bambu yang mudah terbakar selama renovasi eksterior senilai 42,43 juta dolar Hong Kong. Material polistirena busa di dinding luar meleleh cepat, bantu api lompat ke lantai atas via jaring plastik. Banyak warga, termasuk pekerja rumah tangga seperti WNI korban, tutup jendela rapat lindungi debu renovasi—jadi asap terperangkap tanpa peringatan. Alarm kebakaran tak berbunyi efektif, seperti cerita saksi: “Kalau ada yang tidur, selesai sudah.” Kompleks ini rumah bagi 4.800 jiwa, mayoritas lansia—sekitar seperempat penduduk Hong Kong di atas 65 tahun. Korban WNI, yang tinggal di lantai 20-an, tak sempat evakuasi karena api naik cepat. Satu korban luka-luka selamat karena kebetulan bangun dan lari ke balkon.
Respons Pemerintah dan Bantuan untuk WNI
Kementerian Luar Negeri RI koordinasi dengan KBRI Beijing untuk bantu keluarga korban di Indonesia. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bilang: “Kami prioritaskan pemulangan jenazah dan dukungan psikologis.” Konsulat bagi 50.000 dolar Hong Kong untuk biaya awal, dan hubungi Asosiasi Pekerja Indonesia di Hong Kong untuk data tambahan. Di Hong Kong, Chief Executive John Lee umumkan dana darurat 300 juta dolar Hong Kong untuk rekonstruksi dan medis. Polisi tangkap tiga petinggi konstruksi atas dugaan pembunuhan berencana kelalaian—fokus scaffolding dan material tak aman. Fire Services Department tutup kompleks untuk forensik, tapi keluarga korban protes tuntut akses cari barang. Sukarelawan bagi makanan dan obat di penampungan, termasuk untuk WNI yang selamat.
Kesimpulan
Kematian dua WNI di kebakaran Wang Fuk Court tambah daftar tragis migran Indonesia di luar negeri, di mana renovasi ceroboh jadi biang kerok. Dari 94 korban tewas sampai 270 hilang, bencana ini tuntut reformasi keselamatan bangunan di Hong Kong. Kemenlu RI beri dukungan cepat, tapi keluarga korban butuh lebih: keadilan dan pencegahan. Saat api padam, luka tetap membara—semoga ini pelajaran akhir untuk lindungi pekerja kita. Korban WNI, istirahatlah tenang; kami bangga atas perjuangan kalian.