Pengakuan Peneror Bom di Sekolah Depok. Pelaku pengirim ancaman bom ke 10 sekolah di Depok akhirnya mengaku perbuatannya setelah ditangkap polisi pada akhir Desember 2025. Mahasiswa jurusan teknologi informasi berusia 23 tahun itu blak-blakan motif aksinya karena kecewa asmara setelah putus dan lamaran ditolak mantan kekasihnya. Pengakuan ini terungkap dalam pemeriksaan Polres Metro Depok, di mana ia menggunakan email atas nama mantan untuk sebarkan teror palsu yang sempat resahkan masyarakat pendidikan. BERITA OLAHRAGA
Kronologi Teror dan Pengakuan Pelaku: Pengakuan Peneror Bom di Sekolah Depok
Ancaman dikirim melalui email pada dini hari 23 Desember 2025, berisi ancaman ledakan bom, penculikan, pembunuhan, hingga penyebaran narkoba di sekolah. Pelaku random pilih 10 sekolah, salah satunya almamater mantan kekasihnya, dengan bantuan teknologi sederhana. Setelah penangkapan di Semarang saat liburan bersama keluarga, ia langsung akui semua perbuatan. Pengakuan utama adalah rasa kecewa mendalam karena hubungan kandas sejak 2022 dan lamaran ke keluarga mantan ditolak. Ia ingin cari perhatian dengan cara ekstrem, meski sadar risikonya tinggi.
Motif Asmara yang Berujung Teror: Pengakuan Peneror Bom di Sekolah Depok
Pelaku mengaku sering ganggu mantan sebelumnya, seperti buat akun palsu untuk jelekkan nama, kirim pesanan fiktif ke rumah, hingga ancam kampus tempat mantan kuliah. Puncaknya adalah teror bom ini, di mana ia catut nama dan email mantan agar seolah-olah perempuan itu pengirim. Pengakuan ini tunjukkan pola perilaku obsesif akibat penolakan, yang akhirnya merembet ke publik. Polisi sebut ini bukan motif ideologi atau terorisme, murni masalah pribadi yang salah salurkan lewat teknologi.
Proses Hukum dan Dampak Keresahan
Pelaku dijerat pasal ancaman melalui informasi elektronik serta pengancaman umum, dengan ancaman hukuman hingga empat tahun penjara. Barang bukti seperti ponsel dan handset yang digunakan untuk kirim email sudah disita. Meski ancaman palsu dan sekolah aman setelah sterilisasi, kasus ini timbulkan keresahan luas di kalangan orang tua dan guru. Pengakuan pelaku jadi bukti nyata penyalahgunaan pengetahuan IT untuk urusan pribadi, ingatkan bahaya teror digital.
Kesimpulan
Pengakuan peneror bom sekolah di Depok ungkap sisi gelap kekecewaan asmara yang berujung tindak kriminal. Mahasiswa IT itu akui semua karena sakit hati putus cinta dan lamaran ditolak, pakai nama mantan untuk sebarkan teror palsu. Kasus ini beri pelajaran penting soal tangani masalah pribadi dengan bijak, serta waspada ancaman digital. Proses hukum berlanjut untuk beri efek jera, harap cegah kejadian serupa di masa depan.